Merdeka.com - Pasca-insiden di SMK Hang Tuah 2, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur pada Kamis lalu (31/10), keberadaan Anggara Putra Trisula (21), belum diketahui hingga saat ini. Bahkan polisi belum memeriksa anak pensiunan jenderal polisi itu.
Saat wartawan melakukan konfirmasi ke rumahnya di Jalan Sidosermo PDK IV/Kav 68, Wonocolo, Surabaya, hanya ada seorang penjaga rumah yang dilengkapi CCTV tersebut.
"Wah bapak sama keluarganya sedang keluar. Tidak tahu ke mana. Kapan pulangnya juga tidak tahu. Tapi memang benar ini rumahnya Mas Anggara (APT), tapi dia sudah lama tidak tinggal di sini. Katanya sih tinggal di rumah saudaranya, nggak tahu di mana," kata penjaga rumah yang mengaku bernama Nanda, Senin siang (4/11).
Nanda juga mengatakan, kalau majikannya itu memang seorang pensiunan polisi berpangkat brigjen. "Bapak sudah pensiun. Pangkat terakhirnya Brigjen, bintang satu. Kalau Mas Anggara-nya sendiri, baru lulus sekolah tahun ini juga," ungkap dia.
Pemuda yang mengaku baru bekerja di rumah Brigjen Pol (Purn) Totok itu, juga mengaku memang mendengar kejadian yang menimpa anak majikannya tersebut. "Saya memang mendengar, tapi nggak tahu pasti ceritanya. Maaf cuma itu yang saya tahu, saya nggak tahu apa-apa, saya juga baru kerja di sini, saya dari Jakarta disuruh ke sini," elak dia.
Nanda juga menyangkal adanya kabar kalau APT sempat mendaftar di akademi polisi (Akpol) usai lulus SMA. "Saya enggak tahu. Setahu saya, setelah lulus SMA nggak ngapa-ngapain. Maaf saya ndak tahu selebihnya," pungkas dia sembari berlalu kembali masuk rumah.
Diberitakan sebelumnya, pada Kamis lalu, di SMA Hang Tuah 2, Gedangan, Sidoarjo, APT yang merupakan anak seorang perwira tinggi polisi, mengamuk. Dia menabrak puluhan pelajar dan guru di sekolah tersebut dengan mobol yang dikendarainya, yaitu Honda Jazz L 177 AY.
Informasi yang dihimpun di lapangan, aksi koboi APT ini, karena tersinggung kepada satpam sekolah yang melarang mobilnya masuk ke area sekolah. Mobil APT dilarang masuk karena dia bukan salah satu pelajar SMA Hang Tuah 2.
Sementara APT yang berniat membawakan makanan ke NT, salah satu siswi di sekolah tersebut, yang kemudian diketahui kalau NT adalah pacarnya itu, tersinggung mendengar larangan si satpam dan langsung tancap gas menabrak puluhan pelajar dan guru yang berada di halaman sekolah saat jam istirahat berlangsung.
Pascainsiden itu, hingga saat ini, APT masih menghirup udara bebas. Padahal, akibat insiden tersebut, seorang siswi terpaksa dirawat intensif di RS Mitra Keluarga karena mengalami luka serius. Tulang kaki dan tangan kanannya patah serta tulang ekornya juga patah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar