Senin, 07 Desember 2015

Teks Fiksi bersama dengan Analisanya




Pengalaman yang terbang dihembuskan oleh Jarak

“Suatu yang pernah datang dan lalu pergi tetapi sedikit menyisahkan suatu cerita gunda dalam kehidupan”.
Suatu hari entah mengapa hariku berbeda tidak seperti biasanya, kegiatan rutin yang biasanya ku lalui selama 2 tahun ini berbeda terbalik untuk saat ini. Sang mentari datang memberikan suatu keindahan dengan embun segar, aku pun mulai bangun dan mempersiapkan segala suatu di ransel biruku. Dia setiap pagi selalu memberikan senyuman manis denganku, meskipun jarak beberapa kota tetapi itulah yang membuatku prihatin dan selalu memikirkannya.
Dan pada akhirnya aku duduk disuatu tempat yang menurutku sangat berisik dan mungkin aku sebagai pengganggu disini, seseorang melebarkan bibirnya memberikan senyuman manis kepadaku. Dalam hatiku “ternyata gak seserem yang aku pikirkan” dan akhirnya percakapan kita mulai sejak aku berkenalan dengannya. Ternyata dia pemuda yang sama sepertiku akan tetapi dia sudah dahulu berada disini. Oke akhirnya aku dan teman teman dipanggil dengan pembimbing diperusahaan ini, “wow bapak Manager harus jaga sikap nih” ungkap hatiku, tetapi tak hanya hatiku sepertinya teman teman lain juga seperti itu.
Akhirnya aku dan teman teman ditempatkan pada lantai yang berbeda ada yang di lantai 5, 4 atau bahkan dilantai 1. Dan aku terletak dilantai 1 yang artinya jadwal pengurusanku gagal, kenapa? Karena jika dilantai atas, aku bisa naik turun melalui tangga untuk pengecilan berat badan yang setiap hari membengkak ini. Di lantai 1 ini aku medapatkan pengalaman  bagaimana cara bekerja yang baik, bagaimana cara menginputan data resmi dari perusahaan, dan sampai aku bisa mengerti bagaimana bisa berhadapan langsung dengan sales. Adzan ashar pun berkumandang dalam benakku berkata “ini hari pertama kok jam segini belum pulang, apa ini yang dinamakan kerja?”
Waktu yang ditunggu-tunggu pun didepan mata, jarum jam berada tepat pukul 4. Oke masih hari pertama tetapi sudah banyak pelajaran yang dapat diambil. Dan waktunya untuk memberi kabar untuknya dan tetap memberikan senyuman manis padanya. Sehari, dua hari, tiga hari sampai 3 minggu sudah terlewati. Pagi diminggu ke 3 ini perasaanku tidak enak, entah mengapa aku ingin pulang dan bertemu dengannya. Dan dipagi ini aku belum mendapatkan senyuman indah darinya. Waktu menujukkan pukul 10 pagi, biasanya aku tidak pernah membuka media sosial facebok tiba tiba ada notifikasi masuk, ternyata saudara jauh yang ada dikalimantan dan dia memberikan aku pesan “Vira yang sabar ya, bagaimana sekarang keadaan papa? Uda sadar?” dengan sedikit berfikir dan kebinggungan akhirnya air mata iku menetes dengan perlahan. Dan hari itu pekerjaan yang diberikan seperti hanya lewat entah kemana, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dia yang biasanya memberikan senyuman indah itu terkena musibah.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk mendatanginya, jarak itupun aku lalui dengan rasa sedih dan kawatir yang sangat menggerutu dihatiku. Sesampainya disana aku langsung menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh kakakku, aku berlari kecil untuk mencapai ruangan tersebut. Sesampainya disitu, aku berada tepat di depan pintu yang melihat dia terbaring tak berdaya dan berbalut kain putih di kaki kanannya. Air matapun sebenernya harus aku tahan, apa daya air mata itupun jatuh perlahan disaat aku berada di depannya. Dia tidak seperti biasanya, tak ada senyuman manis yang diberikan saat seperti setiap pagi dan sorenya. Aku tak bisa berfikir apa-apa, aku hanya ingin dia sembuh, dia bisa senyum seperti biasanya. Pada akhirnya mamaku mendekat padaku, “vir sudah gak boleh nangis, papa kuat kok, papa tau kamu disini untuk menyemangatinya” Tak ada kata kata satupun yang keluar dari bibirku, hanya air mata yang bisa membasahi kasur rumah sakit.
Senjapun berlalu, matanya perlahan sedikit membuka dan disaat itulah senyuman bisa diberikan kepadaku. “Papa aku disini, papa kuat kok” ungkapku, dia langsung menjawab dengan nada yang sedikit kesakitan “Ia (panggilan kesayangan) kok ada disini, sama siapa? Diangterin siapa? Gimana psg nya?” Disitu aku langsung menghentikan omongannya “sudah yah gak usah mikirin aku, pokoknya ayah harus pulang ayah bisa sembuh”.
Aku baru mendapatkan kabar dari Dokter yang menanganinya, ternyata hari ini ada operasi kedua yang akan dilaksanakan pukul 10 pagi. Dan disitu kebinggungan masih menghampiriku lagi, hari itu aku harus pulang karena besok aku masih harus melaksanakan kewajiban sebagai anak telkom. Pak Dokterpun mendatangi mamaku dan berkata “Sudah siap ya bu, kira kira 10 menit lagi kita masuk kamar operasi”. Berada didepan kamar operasi aku masih bisa tersenyum dan sedikit tertawa kecil untuk menghiburnya, “ayah lo wajahe tegang hehe, ojok tegang yah disana ada bu dokter cantik kok” canda kecil itu sedikit menutupi kekhawatiran yang ada dipikiranku saat itu. Perpisahan itupun kembali terjadi, akhirnya dia masuk kedalam ruang operasi dan diperkirakan hanya 3 sampai 4 jam. Jam menujukkan pukul 4 sore yang seharusnya ayah sudah keluar dari ruang operasi, dan yang seharusnya ku sudah kembali ke Malang untuk persiapan psg besok senin. Entah bagaimana pikiranku saat itu, aku gak mau pulang kalau ayah belum keluar dari ruang operasi.
Namanya pun dipanggil oleh seorang dokter mudah, entah apa yang dokter dengan mamaku itu tetapi sepertinya dari raut wajah mama ada sesuatu yang membuatnya semakin khawatir. Akhirnya mama masuk entah kemana. Aku menunggu dilorong panjang dengan sebuah bunyi jarum jam yang bersautan dengan suara tangisan kecilku, jam sudah menujukkan pukul 6 Malam. Akhirnya mama menghampiriku dan berkata “sudah kamu pulango, papa masih masuk ICU habis ini mungkin keluar”. Akhirnya dengan sedikit paksaan dari mama aku langkah kakiku meninggalkannya tanpa sebuah senyuman perpisahan dengannya. Oke aku pulang dijalan aku hanya bisa berfikir apakah dia sudah keluar dari ruang ICU, apakah dia sudah sadar.
Sampai juga di Malang, seperti biasa keesokan harinya tetap dengan sedikit khawatir, fikiran entah kemana-mana tugas dari perusahaan datang menghantam dan aku hanya bisa mengerjakan beberapa saja. “Badanku drop aku gak bisa begini terus, kalau aku gini terus ntar aku malah merepoti orang lain” gerutu dalam hatiku. Air wudhu ku usapkan ke wajahku secara berkala, aku punya tuhan, aku ingin mengaduh kepadanya, aku meminta pertolongan denganya. Selesainya aku keluar dari musholah kecil yang berada dilantai 5 perusahaan tempat psg ku ini.
Telephon berbunyi, tertera nama Ayah dilayar Hand Phone. Aku segera bergegas untuk menjawab telphone darinya. “Hallo Ia papa baik baik kok” Katanya sambil sedikit menyembunyikan kesakitannya. “Hallo ayah? Uda sembuh kan?” seperti biasa tetesan air mata itu selalu keluar disaat yang seperti ini “Sudah kok, siapa juga yang sakit” tuturnya. Percakapanpun berlanjut sampai perpisahan itu berawal lagi. Sedikit rasa khawatir bisa terobati.
Seminggu berlalu, akupun kembali menjenguknya. Sebuah tas kecil berisi roti dan susu berada ditanganku untuk sebuah oleh-oleh. Senyuman terpancar saat aku berada didepan pintu ruangannya. “Hallo anakku, ayah baik-baik kok” ucapan pertamanya saat aku bisa menatap senyuman indahnya. Kembali terjadi suatu yang mungkin aku tak suka untuk mengeluarkankan, tetesan air mata pun kembali keluar setelah bisa melihatnya terbaring lemah, tetapi masih bisa memberikan senyuman indahnya kepada anaknya. Sekian jam sudah ku lewati bersamanya.
Kabar baikpun datang menghampiri keluargaku “Bapak hari ini sudah boleh kembali kerumah ya” ucap salah satu dokter cantik disitu. Alhamdulillah alunan kata kata bijak itu pun keluar dari semua keluarga yang berada dalam ruangan. Akhirnya aku, dia, dan semua keluarga meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah. Kekhawatiranku sudah sedikit demi sedikit hilang, akhirnya akupun kembali ke Malang dalam keadaan yang bisa dibilang sedikit lega. Dan akupun kembali mengerjakan kewajibanku diperusahaan tempat psgku, dan aku bisa lebih fokus dan bisa lebih mengambil pengalaman yang ada disaat perpisahan itu datang melanda.
 Karya Alvira Reiza Mahardi (02/12/2015)



Analisis Teks Fiksi
1.   Tokoh: Dalam cerita fiksi diatas mempunyai 5 tokoh, 3 tokoh utama antara lain papa, aku, mama. Sedangkan 2 tokoh sampingan yaitu kakak dan teman-teman.
2. Watak: Untuk watak sendiri: Papa berwatak sabar, tidak mau semua orang memikirkan dirinya, kuat, baik, dan penyayang. Aku berwatak sabar, penyayang, berhati lembut. Mama berwatak sabar, penasehat yang baik, penyayang. Sedangkan kakak dan teman teman hanya sebuah tokoh sampingan yang berwatak baik.
3.  Latar: Ada 3 latar digunakan dalam cerita ini yaitu tempat prakerin, musholah tempat prakerin, rumah sakit yang meliputi ruang ICU dan ruang operasi.
4.  Tema: Tema yang saya ambil dalam cerita tersebut ialah Pengalaman yang seakan akan menjadi guru terbaik bagi kehidupan.
5.   Sudut Pandang Pengarang: Sudut pandang orang pertama serbatahu.
6.   Gaya bahasa min 3 majas
=> Majas Pleonasme: Suatu yang pernah datang dan lalu pergi.
=> Majas Sinekdoke:
-Pars Prototo :Dan dipagi ini aku belum mendapatkan senyuman indah darinya
-Totem Proparte: Jam menujukkan pukul 4 sore yang seharusnya ayah sudah keluar dari ruang operasi
7.  Amanat: Amanat yang bisa diambil antara lain memberikan kasih sayang kepada orang yang kita sayang (papa) tidak hanya saat ia mendapatkan musibah. Mengikuti kata hati dan selalu mengabari sesorang yang jauh dari diri kita adalah cara terampuh untuk mengetahui seberapa kasih sayang orang tersebut. Kasih sayang yang tulus hanyalah kasih sayang seorang anak terhadap orangtuanya.
8.   Alur: Menggunakan alur maju.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar