“Suatu yang pernah datang dan
lalu pergi tetapi sedikit menyisahkan suatu cerita gunda dalam kehidupan”.
Suatu hari entah mengapa
hariku berbeda tidak seperti biasanya, kegiatan rutin yang biasanya ku lalui
selama 2 tahun ini berbeda terbalik untuk saat ini. Sang mentari datang
memberikan suatu keindahan dengan embun segar, aku pun mulai bangun dan mempersiapkan
segala suatu di ransel biruku. Dia setiap pagi selalu memberikan senyuman manis
denganku, meskipun jarak beberapa kota tetapi itulah yang membuatku prihatin
dan selalu memikirkannya.
Dan pada akhirnya aku duduk
disuatu tempat yang menurutku sangat berisik dan mungkin aku sebagai pengganggu
disini, seseorang melebarkan bibirnya memberikan senyuman manis kepadaku. Dalam
hatiku “ternyata gak seserem yang aku pikirkan” dan akhirnya percakapan kita
mulai sejak aku berkenalan dengannya. Ternyata dia pemuda yang sama sepertiku
akan tetapi dia sudah dahulu berada disini. Oke akhirnya aku dan teman teman
dipanggil dengan pembimbing diperusahaan ini, “wow bapak Manager harus jaga
sikap nih” ungkap hatiku, tetapi tak hanya hatiku sepertinya teman teman lain juga
seperti itu.
Akhirnya aku dan teman teman
ditempatkan pada lantai yang berbeda ada yang di lantai 5, 4 atau bahkan
dilantai 1. Dan aku terletak dilantai 1 yang artinya jadwal pengurusanku gagal,
kenapa? Karena jika dilantai atas, aku bisa naik turun melalui tangga untuk
pengecilan berat badan yang setiap hari membengkak ini. Di lantai 1 ini aku medapatkan
pengalaman bagaimana cara bekerja yang
baik, bagaimana cara menginputan data resmi dari perusahaan, dan sampai aku
bisa mengerti bagaimana bisa berhadapan langsung dengan sales. Adzan ashar pun
berkumandang dalam benakku berkata “ini hari pertama kok jam segini belum
pulang, apa ini yang dinamakan kerja?”
Waktu yang ditunggu-tunggu pun
didepan mata, jarum jam berada tepat pukul 4. Oke masih hari pertama tetapi
sudah banyak pelajaran yang dapat diambil. Dan waktunya untuk memberi kabar
untuknya dan tetap memberikan senyuman manis padanya. Sehari, dua hari, tiga
hari sampai 3 minggu sudah terlewati. Pagi diminggu ke 3 ini perasaanku tidak
enak, entah mengapa aku ingin pulang dan bertemu dengannya. Dan dipagi ini aku
belum mendapatkan senyuman indah darinya. Waktu menujukkan pukul 10 pagi,
biasanya aku tidak pernah membuka media sosial facebok tiba tiba ada notifikasi
masuk, ternyata saudara jauh yang ada dikalimantan dan dia memberikan aku pesan
“Vira yang sabar ya, bagaimana sekarang keadaan papa? Uda sadar?” dengan
sedikit berfikir dan kebinggungan akhirnya air mata iku menetes dengan
perlahan. Dan hari itu pekerjaan yang diberikan seperti hanya lewat entah
kemana, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dia yang biasanya memberikan
senyuman indah itu terkena musibah.
Keesokan harinya aku
memutuskan untuk mendatanginya, jarak itupun aku lalui dengan rasa sedih dan
kawatir yang sangat menggerutu dihatiku. Sesampainya disana aku langsung menuju
rumah sakit yang diberitahukan oleh kakakku, aku berlari kecil untuk mencapai
ruangan tersebut. Sesampainya disitu, aku berada tepat di depan pintu yang
melihat dia terbaring tak berdaya dan berbalut kain putih di kaki kanannya. Air
matapun sebenernya harus aku tahan, apa daya air mata itupun jatuh perlahan
disaat aku berada di depannya. Dia tidak seperti biasanya, tak ada senyuman
manis yang diberikan saat seperti setiap pagi dan sorenya. Aku tak bisa
berfikir apa-apa, aku hanya ingin dia sembuh, dia bisa senyum seperti biasanya.
Pada akhirnya mamaku mendekat padaku, “vir sudah gak boleh nangis, papa kuat
kok, papa tau kamu disini untuk menyemangatinya” Tak ada kata kata satupun yang
keluar dari bibirku, hanya air mata yang bisa membasahi kasur rumah sakit.
Senjapun berlalu, matanya
perlahan sedikit membuka dan disaat itulah senyuman bisa diberikan kepadaku.
“Papa aku disini, papa kuat kok” ungkapku, dia langsung menjawab dengan nada
yang sedikit kesakitan “Ia (panggilan kesayangan) kok ada disini, sama siapa?
Diangterin siapa? Gimana psg nya?” Disitu aku langsung menghentikan omongannya
“sudah yah gak usah mikirin aku, pokoknya ayah harus pulang ayah bisa sembuh”.
Aku baru mendapatkan kabar
dari Dokter yang menanganinya, ternyata hari ini ada operasi kedua yang akan
dilaksanakan pukul 10 pagi. Dan disitu kebinggungan masih menghampiriku lagi,
hari itu aku harus pulang karena besok aku masih harus melaksanakan kewajiban
sebagai anak telkom. Pak Dokterpun mendatangi mamaku dan berkata “Sudah siap ya
bu, kira kira 10 menit lagi kita masuk kamar operasi”. Berada didepan kamar
operasi aku masih bisa tersenyum dan sedikit tertawa kecil untuk menghiburnya,
“ayah lo wajahe tegang hehe, ojok tegang yah disana ada bu dokter cantik kok” canda
kecil itu sedikit menutupi kekhawatiran yang ada dipikiranku saat itu.
Perpisahan itupun kembali terjadi, akhirnya dia masuk kedalam ruang operasi dan
diperkirakan hanya 3 sampai 4 jam. Jam menujukkan pukul 4 sore yang seharusnya
ayah sudah keluar dari ruang operasi, dan yang seharusnya ku sudah kembali ke
Malang untuk persiapan psg besok senin. Entah bagaimana pikiranku saat itu, aku
gak mau pulang kalau ayah belum keluar dari ruang operasi.
Namanya pun dipanggil oleh
seorang dokter mudah, entah apa yang dokter dengan mamaku itu tetapi sepertinya
dari raut wajah mama ada sesuatu yang membuatnya semakin khawatir. Akhirnya
mama masuk entah kemana. Aku menunggu dilorong panjang dengan sebuah bunyi
jarum jam yang bersautan dengan suara tangisan kecilku, jam sudah menujukkan
pukul 6 Malam. Akhirnya mama menghampiriku dan berkata “sudah kamu pulango,
papa masih masuk ICU habis ini mungkin keluar”. Akhirnya dengan sedikit paksaan
dari mama aku langkah kakiku meninggalkannya tanpa sebuah senyuman perpisahan
dengannya. Oke aku pulang dijalan aku hanya bisa berfikir apakah dia sudah
keluar dari ruang ICU, apakah dia sudah sadar.
Sampai juga di Malang, seperti
biasa keesokan harinya tetap dengan sedikit khawatir, fikiran entah kemana-mana
tugas dari perusahaan datang menghantam dan aku hanya bisa mengerjakan beberapa
saja. “Badanku drop aku gak bisa begini terus, kalau aku gini terus ntar aku
malah merepoti orang lain” gerutu dalam hatiku. Air wudhu ku usapkan ke wajahku
secara berkala, aku punya tuhan, aku ingin mengaduh kepadanya, aku meminta
pertolongan denganya. Selesainya aku keluar dari musholah kecil yang berada
dilantai 5 perusahaan tempat psg ku ini.
Telephon berbunyi, tertera
nama Ayah dilayar Hand Phone. Aku segera bergegas untuk menjawab telphone
darinya. “Hallo Ia papa baik baik kok” Katanya sambil sedikit menyembunyikan
kesakitannya. “Hallo ayah? Uda sembuh kan?” seperti biasa tetesan air mata itu
selalu keluar disaat yang seperti ini “Sudah kok, siapa juga yang sakit”
tuturnya. Percakapanpun berlanjut sampai perpisahan itu berawal lagi. Sedikit
rasa khawatir bisa terobati.
Seminggu berlalu, akupun kembali
menjenguknya. Sebuah tas kecil berisi roti dan susu berada ditanganku untuk
sebuah oleh-oleh. Senyuman terpancar saat aku berada didepan pintu ruangannya. “Hallo
anakku, ayah baik-baik kok” ucapan pertamanya saat aku bisa menatap senyuman
indahnya. Kembali terjadi suatu yang mungkin aku tak suka untuk
mengeluarkankan, tetesan air mata pun kembali keluar setelah bisa melihatnya
terbaring lemah, tetapi masih bisa memberikan senyuman indahnya kepada anaknya.
Sekian jam sudah ku lewati bersamanya.
Kabar baikpun datang menghampiri
keluargaku “Bapak hari ini sudah boleh kembali kerumah ya” ucap salah satu
dokter cantik disitu. Alhamdulillah alunan kata kata bijak itu pun keluar dari
semua keluarga yang berada dalam ruangan. Akhirnya aku, dia, dan semua keluarga
meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah. Kekhawatiranku sudah sedikit
demi sedikit hilang, akhirnya akupun kembali ke Malang dalam keadaan yang bisa
dibilang sedikit lega. Dan akupun kembali mengerjakan kewajibanku diperusahaan tempat
psgku, dan aku bisa lebih fokus dan bisa lebih mengambil pengalaman yang ada disaat
perpisahan itu datang melanda.
Karya Alvira Reiza Mahardi (02/12/2015)
Analisis Teks Fiksi
1. Tokoh: Dalam cerita fiksi diatas mempunyai 5 tokoh, 3 tokoh utama antara lain papa,
aku, mama. Sedangkan 2 tokoh sampingan yaitu kakak dan teman-teman.
2. Watak: Untuk watak sendiri: Papa berwatak sabar, tidak mau semua orang memikirkan
dirinya, kuat, baik, dan penyayang. Aku berwatak sabar, penyayang, berhati
lembut. Mama berwatak sabar, penasehat yang baik, penyayang. Sedangkan kakak
dan teman teman hanya sebuah tokoh sampingan yang berwatak baik.
3. Latar: Ada 3 latar digunakan dalam cerita ini yaitu tempat prakerin, musholah tempat
prakerin, rumah sakit yang meliputi ruang ICU dan ruang operasi.
4. Tema: Tema yang saya ambil dalam cerita tersebut ialah Pengalaman yang seakan akan
menjadi guru terbaik bagi kehidupan.
5. Sudut Pandang Pengarang: Sudut pandang orang pertama serbatahu.
6. Gaya bahasa min 3 majas
=> Majas Pleonasme: Suatu yang pernah datang dan lalu pergi.
=> Majas Sinekdoke:
-Pars Prototo :Dan dipagi ini aku belum mendapatkan senyuman indah darinya
-Totem Proparte: Jam menujukkan pukul 4 sore yang seharusnya ayah sudah keluar dari ruang operasi
=> Majas Pleonasme: Suatu yang pernah datang dan lalu pergi.
=> Majas Sinekdoke:
-Pars Prototo :Dan dipagi ini aku belum mendapatkan senyuman indah darinya
-Totem Proparte: Jam menujukkan pukul 4 sore yang seharusnya ayah sudah keluar dari ruang operasi
7. Amanat: Amanat yang bisa diambil antara lain memberikan kasih sayang kepada orang yang
kita sayang (papa) tidak hanya saat ia mendapatkan musibah. Mengikuti kata hati
dan selalu mengabari sesorang yang jauh dari diri kita adalah cara terampuh
untuk mengetahui seberapa kasih sayang orang tersebut. Kasih sayang yang tulus
hanyalah kasih sayang seorang anak terhadap orangtuanya.
8. Alur: Menggunakan alur maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar